0


Istilah “tauhid sosial” merupakan istilah baru yang diperkenalkannya dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Tauhid sosial dimaksudkan sebagai dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. Sebagai muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti salat, puasa, haji, dan seterusnya memiliki dimensi sosial. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya.
Menurut Amien Rais, tauhid sesungguhnya menurunkan atau mengisyaratkan adanya lima pengertian.
Pertama, unity of Godhead, yaitu kesatuan ketuhanan.
Kedua, unity of creation, yaitu kesatuan penciptaan. Seluruh makhluk di alam semesta ini, baik yang kelihatan maupun yang tidak, yang lahir maupun yang gaib, merupakan bagian dari ciptaan Allah.
Ketiga, unity of mankind, yaitu kesatuan kemanusiaan. Jadi, perbedaan warna kulit, bahasa, geografi, sejarah, dan segala perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi.
Keempat, unity of guidance, yaitu kesatuan pedoman hidup. Bagi orang yang beriman, hanya ada satu pedoman hidup, yakni yang datangnya dari Allah yang berupa wahyu. Karena Allah yang menciptakan manusia, maka Allah pula yang paling tahu apa yang baik atau buruk bagi manusia, sehingga kita betul-betul dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Kelima, unity of the purpose of life, yaitu kesatuan tujuan hidup. Bagi orang yang beriman, satu-satunya tujuan hidup adalah untuk mencapai rida Allah. Konsep “tauhid sosial” ini tampaknya muncul dari Amien Rais sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan yang ia lihat.

Hal ini bisa dirujuk pada pernyataannya yang retoris: “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Karena Islam itu merupakan religion of justice, maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil. ”Dengan merujuk sosiolog Prof. Gelner, Amien Rais juga mengatakan bahwa di muka bumi ini, setiap orang Islam bisa menjadi masalah bagi rezim yang mapan yang mempertahankan ketidakadilan, karena orang Islam selalu resah, gelisah, dan selalu ingin mengejawantahkan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupannya. Dengan mengutip Ibn Hazim , ia juga mengatakan, bila di tengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin, adalah kewajiban si kaya untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. Dan, menjadi hak dari si papa untuk mengambil bagiannya dari si kaya.
Jadi, secara sederhana, konsep tauhid sosial Amien Rais dapat disimpulkan sebagai tuntutan terwujudnya masyarakat yang adil, sekaligus memperoleh ridha Allah.
Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah, walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. Dengan kata lain, kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. Padahal, sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam.
Dalam konteks ini, orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah, antara lain Tauhid Sosial.
Syafi’i Ma’arif menyebutkan Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan. Al-Qur’an, yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. Secara substasial, gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal:
pertama, iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated), di bawah prinsip-prinsip tauhid. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid itu. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif, dikotomik, dan juga sinkretik. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Islam berprinsip pada tauhid, lebih dari segalanya. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai.
Kedua, iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Artinya, kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan, bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’. Dalam Al-Qur’an, doktrin ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’ dijumpai dalam delapan ayat, tersebar dalam lima surat, dua makkiyah dan tiga madaniyyah. Tugas ini dibebankan pada rasul, pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan, yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Dalam perspektif yang berbeda, cendekiawan muslim, Kuntowijoyo, menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Oleh karena itu, tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut.
Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman, dan kemudian beramal. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya, disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin, pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman, ‘percaya kepada yang gaib’, kemudian mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Di dalam ayat tersebut kita melihat adanya trilogi iman-shalat-zakat.
Sementara dalam formulasi lain, kita juga mengenal trilogi iman-ilmu-amal. Dengan memperhatikan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal, pada aksi. Artinya, tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan, tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia.
Dengan demikian, Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin, rahmat untuk alam semesta, termasuk untuk kemanusiaan. Dengan melihat penjelasan ini, tauhid sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin.
Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid, kemudian dimensi epistemik, lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Islam dan Ketidaksamaan Sosial Ketidaksamaan sosial (social inequality) terjadi di hampir semua komunitas masyarakat dunia.

Adanya ketidaksamaan sosial ini pada umumnya melahirkan polarisasi sosial yang dalam banyak hal melahirkan kasus-kasus kemiskinan, kesenjangan, ketidakadilan, penindasan bahkan perbudakan. Ketidaksamaan sosial ini kemudian dirumuskan dengan membaginya dalam istilah ‘kelas sosial’. Masyarakat Arab pada zaman nabi juga terbagi dalam dua kelas sosial, yakni kelas bangsawan dan kelas budak.
Tapi, Al-Qur’an juga merefleksikan adanya kenyataan sosial lain mengenai pembagian kelas sosial ini, seperti konsep golongan dhu’afa, mustadh’afin, kaum fakir, dan masakin. Demikian juga dalam masyarakat Eropa abad ke 17, dimana terdapat tiga kelas sosial di sana, yaitu kelas pendeta, kelas bangsawan dan kelas borjuasi.
Kemudian juga dikenal kelas proletar Dalam terminologi Marx, ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ‘kelas’, sehingga pada umumnya terminologi kelas dalam konsep Marxis didefinisikan secara mashur oleh Lenin. Lenin mendefinisikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi.
Dengan demikian, masyarakat industri menurut terminologi ini hanya mengenal dua kelas, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Dengan doktrinnya yang terkenal, ‘materialisme dialektis’ dan ‘determinisme ekonomi’, Marx yakin bahwa dalam masyarakat industrial-kapitalis, golongan proletar adalah yang paling miskin. Sementara dalam Islam, Kuntowijoyo mencatat bahwa Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah, sebagai hukum alam, sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial, ekonomi, atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya. Kendatipun demikian, ini tidak dapat diartikan bahwa Al-Qur’an mentoleransi social-inequality. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. Sebaliknya, Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial, oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Dengan demikian, Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Dalam banyak perspektif, Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Cita-Cita Praktek Sosial Islam Persoalannya adalah tidak mudah mewujudkan cita-cita sosial Islam ini. Terlebih lagi dalam kondisi masyarakat yang dimanjakan oleh arus materialisme sekarang ini. Proses ini memang harus dimulai dari transformasi nilai-nilai Islam, baru kemudian dilakukan lompatan-lompatan dalam dataran praksis. Kuntowijoyo punya pandangan menarik dalam merumuskan proses transformasi ini. “Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif”, demikian Kuntowijoyo. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif ini menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, nilai normatif ini diaktualkan langsung menjadi perilaku. Untuk jenis aktualisasi semacam ini, contohnya adalah seruan praktis Al-Qur’an, misalnya untuk menghormati orang tua. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktek, ke dalam prilaku. Pendekatan seperti ini telah dikembangkan melalui ilmu fiqh. Ilmu ini cenderung menunjukkan secara langsung, bagaimana secara legal prilaku harus sesuai dengan sistem normatif. Cara yang kedua adalah mentransformasikan nilai-nilai normatif ini menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam prilaku. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini, jika kita ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industri, suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dari pada sekedar pendekatan legal. Metode transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam dimensi praksis, memang membutuhkan beberapa fase formulasi: teologi®filsafat sosial®teori sosial®perubahan sosial. Sampai sekarang ini, kita belum melakukan usaha semacam itu. Bagaimana mungkin kita dapat mengatur perubahan masyarakat jika kita tak punya teori sosial? Sementara Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. Pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik, ekonomi, sosial, iptek, dan budaya. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah. Oleh sebab itu, Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret, kepada yang empirik, sebab di sana juga terdapat ayat-ayat Allah, yakni ayat-ayat kauniyah. Karenanya, suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. Padahal, kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. Dengan menyadari kekurangan ini, kita memang sudah didesak untuk segera memikirkan metode transformasi nilai Islam pada level yang empiris melalui diciptakannya ilmu-ilmu sosial Islam. Tapi di sisi lain, kita perlu melakukan pembongkaran terhadap prinsip-prinsip teologi klasik yang terlalu sibuk mengurus masalah ghaib. Cita-cita sosial Islam untuk melahirkan keadilan sosial bagi seluruh alam memang masih jauh dari cita-cita. Tapi, juga tidak bijak kalau kita hanya menyimpannya dalam teks-teks suci. Perjuangan ke arah itu memang tidak ringan. Tapi itulah tugas kita kalau kita mau menyumbangkan sesuatu yang anggun untuk kemanusiaan. Perjuangan umat Islam yang masih bergulat untuk bangun dari kemiskinan dan keterbelakangan, tentu akan sia-sia jika tak didukung oleh kerja-kerja intelektual yang menopang terbentuknya suatu tatanan sosial masyarakat seperti yang kita cita-citakan. Ini tugas kita semua

Dikirim pada 07 Desember 2015 di menjaga harapan dengan serpihan iman
07 Des


TAUHID SOSIAL
TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Interpretasi dari makna tauhid adalah bagaimana hubungan manusia dengan tuhan dan hubungan manusia sesama manusia tidak terjadi ketimpangan, artinya manusia harus mampu menempatkan dirinya sebagai hamba Allah (‘abd) yang selalu menundukkan dirinya dengan melakukan ibadah ritual. Namun begitu, sebagai manusia zon politikon manusia juga harus mampu memahami gejala-gejala social yang terjadi di masyarakat, dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat, serta bagaimana menciptakan kondisi social tersebut menjadi masyarakat adil makmur yang diridhai oleh SWT, agar ketimpangan-ketimpangan social tidak terjadi, lebih-lebih bagaimana memperjuangkan kaum mustadh’afin.
B. Rumusan Masalah
Supaya tidak terjadi ketimpangan social, maka sangat dibutuhkan transformasi nilai-nilai Islam yaitu melakukan proses pemberdayaan dan pembebasan umat terutama pada kaum dhu’afa dari berbagai bentuk eksploitasi baik pada level individual maupun structural.
Dengan kata lain, mereka yang benar-benar bertauhid, seyogyanyalah selalu peka dan terpanggil kesadarannya untuk memerdekakan, membebaskan, dan memberdayakan umat manusia dari segala macam eksploitasi yang membuat kehidupan ini menjadi nista, sekaligus jangan sampai terjangkiti penyakit yang menghancurkan hakikat kemanusiaan ini.
BAB II
PEMBAHASAN
Al-Qur`an, kitab suci umat Islam yang terdiri dari enam ribu ayat lebih sesungguhnya diturunkan dalam dua periode, yaitu periode Mekah dan periode Madinah. Karena itu, ayat-ayat dalam al-Qur`an diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu ayat Makki dan ayat Madani. Implikasinya, periode pembangunan Islam masa Nabi Muhammad saw. juga terdiri dari periode Mekah dan periode Madinah.
Periode Mekkah adalah periode penanaman nilai-nilai keimanan, aqidah atau tauhid. Akidah merupakan sendi agama, di atas akidahlah segalanya dibangun. Al-Qur`an dalam periode Mekah, menyeru manusia kepada mengesakan Allah (tauhidullah) dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Setelah aqidah/tauhid berakar teguh dalam hati para muslimin dan lenyapnya benih-benih kesyirikan, Allah menyuruh nabi–Nya untuk hijrah ke Madinah, tanah air baru bagi para muslimin, tempat kebangkitan daya juang yang bebas dalam usaha da’wah dan menerapkan ajaran Islam (baca: tauhid) di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.[1]
Inilah inti dari seluruh ajaran yang di bawa Nabi Muhammad saw tersebut. Sekalipun beda tempat, aspek dan cara, namun esensi dari itu semua adalah sama, yaitu tauhid. Bila di Mekah, nabi lebih menekankan kepada tauhid aqidah, yaitu keimanan terhadap Sang Khaliq, maka di Madinah lebih kepada tauhid sosial berupa aplikasi dari tauhid akidah itu sendiri dalam hubungan sosial..
A. Urgensi Tauhid dalam Islam
Tauhid adalah bahasa arab yang diambil dari kata : WahhadaYuwahhiduTauhidan ( وحد- يوحد- توحيدا ) yang secara sederhana dapat diartikan mengesakan. Tauhid Satu suku kata dengan kata wahid (واحد) dan kata ahad. Wahid berarti satu dan kata ahad yang berarti esa.[2]
Tauhid dalam ajaran Islam berarti sebuah keyakinan akan keesaan Allah. Inilah inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam. Karena itu Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Sehingga gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin (gerakan yang memperjuangkan tauhid). Selanjutnya, dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah[3].
B. Tauhid sebagai Cabang Ilmu
Tauhid dalam kajiannya sebagai salah satu cabang ilmu telah diklasifikasikan kepada beberapa bagian:
1. Tauhid dalam Rububiyah
Dalam Islam, hakikat manusia beragama adalah meyakini adanya tuhan. Bentuk dari keyakinan itu adalah mengabdikan diri kepada-Nya dengan segenap anggota tubuh (jawahir).[4]
Dalam tataran tauhid rububiyah pada dasarnya manusia berada pada posisi yang sama, yaitu meyakini suatu realitas wujud yang maha sempurna. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 62 :
“Allah pencipta segala sesuatu dan Dia yang memelihara segala sesuatu itu
2. Tauhid dalam Uluhiyah
Tauhid uluhiyah merupakan suatu penegasan bahwa tuhan adalah Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bangiNya.[5] Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyah-Nya. Firman Allah :
Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan oran- orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Imran : 18).
3. Tauhid dalam Asma’ wa Sifah
Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma’ul husna) yang sesuai dengan keagungan Nya. Umat Islam mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah. Firman Allah SWT:
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
C. Manifestasi Tauhid Dalam Kehidupan
Tidak dipungkiri lagi tauhid merupakan basis seluruh keimanan, norma dan nilai. Tauhid mengandung muatan doktrin yang sentral dan asasi dalam Islam, yaitu memahaesakan tuhan yang bertolak dari kalimat “La Ilaha Illallah” bahwa tidak ada tuhan selain Allah.[6] Dalam pandangan empiris secara umum, tauhid seolah hanya sebuah konsep yang membuat orang hanya mampu berkutat pada doktrin itu semata. Kesan yang timbul adalah tauhid hanyalah untuk diyakini dan diucapkan, tidak lebih. Padahal praktek tauhid yang dicontohkan oleh Rasulullah tidaklah seperti itu. Tauhid tidak berhenti hanya sebatas doktrin, tapi harus ditunjukkan dengan sikap dalam kehidupan. Dengan itu akan lahirlah rasa kebahagiaan dan kedamaian dalam setiap dimensi kehidupan.
1. Refleksi Makna Tauhid
Kalimah syahadah adalah doktrin yang bersifat fundamental dan menyeluruh berupa kesaksian imani tentang keyakinan akan kemahatunggalan Allah yang bersifat mutlak yang didalamnya terkandung keyakinan imani tentang Allah yang Maha segala-galanya dalam totalitas Kedaulatan Tuhan atas kehidupan, jagad raya dan isinya. Tauhid sebagai sentral dan dasar keyakinan dalam Islam ini menjadi sumber totalitas sikap dan pandangan hidup umat dalam keseluruhan dimensi kehidupan. Pandangan Tauhid yang bersifat menyeluruh ini selain melahirkan keyakinan akan ke-Maha-Esaan Allah (unity of Good head) juga melahirkan konsepsi ketauhidan yang lainnya dalam wujud keyakinan akan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of tbe purpose of life) umat manusia.[7]
Sejalan dengan itu, ulama besar dan mufassir al-Qur`an Thabathaba’i mengatakan “tauhid, bila diuraikan akan menjadi keseluruhan Islam, dan bila Islam dirangkum akan diperoleh tauhid”. Tauhid bagaikan khazanah yang disatukan. Pada permukaannya akan kelihatan prinsip akidah yang sederhana, tapi apabila direntangkan ia akan meliputi seluruh alam. Artinya, keseluruhan Islam adalah suatu tubuh yang terbentuk dari berbagai anggota dan bagian, sedangkan jiwanya adalah tauhid. Ketika tauhid (sebagai ruh) terpisah dari anggota dan bagian itu (dalam bentuk amaliyah dan sikap), maka yang akan terbentuk hanyalah seonggokan bangkai yang tak bernyawa alias mati.[8]
2. Peranan Tauhid Bagi Kemanusiaan
Tauhid, dengan serangkaian nilai yang dikandungnya, hari ini mendapatkan tantangan yang cukup besar. Dimana konsep tauhid tidak cukup hanya dipahami sebagai doktrin semata yang ternyata tidak mampu menjawab persoalan zaman hari ini.[9] Sebagai muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya memiliki dimensi sosial. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya.[10]
Tauhid membentuk manusia dapat menempatkan manusia lain pada posisi kemanusiaanya. Manusia tidak dihargai lebih rendah dari kemanusiaanya sehingga diposisikan bagai binatang, atau lebih tinggi bagai tuhan. Ketika itu, maka berbagai kerusuhan berjubah agama yang selalu muncul silih berganti di berbagai belahan bumi ini tak perlu terjadi. Katakanlah, sejarah perang salib yang merupakan potret pertentangan panjang antar pemeluk Islam-Kristen. Juga perang Bosnia antara pemeluk Khatolik-Islam, pertentangan panjang Palestina-Israel (Islam-Yahudi), Irlandia Utara-Inggris (Khatolik-Protestan), dan sebagainya adalah serentetan daftar panjang tentang konflik yang sangat kental nuansa agamanya.[11]
Dalam wilayah kepentingan hidup umat manusia, konsepsi tauhid sesungguhnya mempunyai banyak dimensi aktual, salah satunya adalah dimensi pemerdekaan atau pembebasan dari segala macam perbudakan, (tahrirun nas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatillah.[12] Diharuskannya manusia bertauhid dan dilarangnya menyekutukan Allah yang disebut syirik, bukanlah untuk kepentingan status-quo Tuhan yang memang maha merdeka dari interes-interes semacam itu, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dengan demikian terjadi proses emansipasi teologis yang sejalan dengan fitrah kekhalifahan manusia di muka bumi. Manusia bukanlah sekadar abdi Allah, tetapi juga khalifah Allah di muka bumi ini. Karenanya, manusia harus dibebaskan dari penjara-penjara thaghut dalam segala macam konsepsi dan perwujudannya, yang membuat manusia menjadi tidak berdaya sebagai khalifah-Nya. Sehingga dengan keyakinan tauhid itu, manusia menjadi tidak akan terjebak pada kecongkakan karena di atas kelebihan dirinya dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya masih ada kekuasaan Allah Yang Maha segala-galanya. Selain itu, manusia diberi kesadaran yang tinggi akan kekhalifahan dirinya untuk memakmurkan bumi ini yang tidak dapat ditunaikan oleh makhluk Tuhan lainnya sehingga dirinya haruslah bebas atau merdeka dari berbagai penjara kehidupan yang dilambangkan thaghut. Dengan ketundukan kepada Allah sebagai wujud sikap bertauhid dan bebasnya manusia dari penjara thaghut maka hal itu berarti bahwa manusia sungguh menjadi makhluk merdeka di muka bumi, sebuah kemerdekaan yang bertanggungjawab selaku khalifah­Nya.[13]
Karenanya, secara rasional dapat dijelaskan bahwa keyakinan kepada Allah yang Maha esa sebagaimana doktrin tauhid mematoknya demikian, selain memperbesar ketundukan manusia dalam beribadah selaku hamba-Nya, sekaligus memperbesar dan mengarahkan potensi kemampuan manusia selaku khalifah-Nya di atas jagad raya ini. Dari proses pembebasan atau pemerdekaan ini akan melahirkan sikap manusia yang merdeka dan bertanggungjawab.
Dengan demikian, selain pada aras individual, tauhid memiliki dimensi aktualisasi bermakna pembebasan atau pemerdekaan pada aras kehidupan kolektif dan sistem sosial. Pembebasan Bilal sang hamba sahaya di zaman Rasulullah, adalah simbolisasi dari makna pembebasan struktural sistem sosial jahiliyah oleh sistem sosial yang berlandaskan tauhid. Bilal yang hitam dan hamba sahaya adalah perlambang dari kaum dhu’afa, kaum lemah dan tertindas dalam sistem berjuasi Arab Quraisy. Dengan landasan doktrin tauhid, kelompok dhu’afa dan mustadh’afin ini kemudian dimerdekakan dan diberdayakan, sehingga menjadi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kelompok elit atas seperti Abu Bakr as-Shidieq, Usman bin Affan, dan lainnya. Dengan doktrin tauhid inilah kemudian Islam memperkenalkan sistem sosial baru yang berasas kesamaan (musawah), keadilan (‘adalah), dan kemerdekaan (huriyyah).[14]
Karenanya, dengan gagasan tauhid sosial yang merupakan aktualisasi tauhid ke dalam sistem sosial berbagai aspek kehidupan umat, seyogyanya muncul proses pemberdayaan dan pembebasan umat terutama pada kaum dhu’afa dari berbagai bentuk ekslpoitasi baik pada level individual maupun struktural. Setiap bentuk eksploitasi manusia oleh manusia lainnya dalam berbagai bentuk, bukan hanya bertentangan dengan fitrah dan rasa kemanusiaan, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Tuhan dalam menciptakan umat manusia di muka bumi ini. Dengan kata lain, mereka yang benar-benar bertauhid, seyogyanyalah selalu peka dan terpanggil kesadarannya untuk memerdekakan, membebaskan, dan memberdayakan umat manusia dari segala macam eksploitasi yang membuat kehidupan ini menjadi nista, sekaligus jangan sampai terjangkiti penyakit yang menghancurkan hakikat kemanusiaan ini.
3. Tauhid Dalam Menjawab Permasalahan Pluralitas
Kini, secara kebetulan umat Islam di Indonesia adalah penduduk terbesar, karenanya implementasi sikap hidup tauhid sangatlah dituntut dari setiap muslim dalam menyehatkan sistem dan memberdayakan rakyat di berbagai aspek kehidupan baik di bidang politik, ekonomi, budaya, dan aspek-aspek kehidupan penting lainnya. Lebih-lebih ketika sang muslim itu memiliki posisi dan otoritas formal yang penting serta menentukan kepentingan atau hajat hidup orang banyak. Umat Islam secara kolektif dan orang-orang Islam secara individual dituntut untuk menjadi teladan yang terbaik dalam mempraktekkan kehidupan dan membentuk bangunan sosial yang salih, sebagai pancaran sikap hidup tauhid. Inilah yang dikehendaki dalam wacana dan perspektif tauhid sosial. Dalam aktualisasi konkretnya, tuntutan untuk mengaktualisasikan tauhid dalam kehidupan sosial sebagaimana komitmen dari tauhid sosial, tentu saja tidaklah bersifat sederhana dan bahkan terbilang merupakan tantangan berat karena akan bersinggungan dengan beragam kepentingan yang melekat dalam diri manusia selaku aktor sosial dan pada struktur atau sistem sosial.[15]
Tidak jarang terjadi kecenderungan, secara formal seseorang itu bertauhid dalam artian tidak menjadi musyrik, tetapi dalam kehidupan sosialnya mempraktekkan hal-hal yang bertentangan dengan esensi dan makna tauhid. Kecenderungan ini terjadi, sebab besar kemungkinan bahwa apa yang dinamakan thaghut sebagai perlambang tuhan selain Allah, ketika bersarang dalam diri manusia mungkin lebih bersifat satu wajah yang bernama hawa nafsu atau pikiran-pikiran sesat yang bersifat individual, tetapi ketika masuk ke dalam struktur sosial akan banyak sekali wajah dan perwujudannya dalam bentuk jahiliyah sistem sebagai akumulasi dari pertemuan seribu satu hawa nafsu dan pikiran-pikiran sesat yang bersifat kolektif. Karenanya sebagai perwujudan atau aktualisasi bertauhid, boleh jadi ada orang salih secara individual, tetapi tidak salih secara sosial. Sebab pengalaman empirik menunjukkan, menciptakan sistem sosial yang salih bukan pekerjaan gampang. Hal yang paling buruk ialah, banyak orang yang secara indi­vidual tidak salih hidup di tengah sistem sosial yang munkar.
Proses pemerdekaan atau pembebasan manusia untuk membangun kehidupan yang shalih baik secara individual maupun struktural yang berarti juga menolak setiap sistem yang munkar, bagaimanapun akan berhadapan dengan kekuatan­-kekuatan thaghut. Dalam wilayah profan, thaghut adalah perlambang kekuatan tiranik yang sewenang-wenang, yang melampaui batas. Sikap suka melampaui batas ini secara alamiah terdapat dalam diri manusia. QS. Al-‘Alaq/96: 6-7):
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena Dia melihat dirinya serba cukup.
Dan akan terakumulasi menjadi kekuatan destruktif yang menghancurkan martabat kehidupan manusia yang luhur ketika melekat dalam struktur atau sistem sosial sebagai perwuju­dan dari “thaghut kolektif’ yang massive. Dalam perspektif kehidupan sosial dapat dilihat contoh konkret, bahwa setiap upaya pemberdayaan yang berorientasi pada peningkatan martabat hidup kemanusiaan yang menyangkut kepentingan terbesar masyarakat akan berhadapan dengan kendala budaya dalam status-quo elit sosial dan kendala struktur dalam status-quo sistem yang cenderung ingin melanggengkan dirinya di tengah kekuatan perubahan.
[1] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Litera Antarnusa, h. 71
[2] H. Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta; PT. Rineka Cipta. 1996. h. 1
[3] http://www.banker-makalah.blogspot.com/2007/03/menyeimbangkan-tauhid-individual-dan.html/oleh:Amir-Tajrid,M.Ag/diakses-pada:07/12/2008
[4] Op.Cit. h. 20
[5] Ibid. h. 17
[6] Muhammad Taqi Misbah. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai Dan Akidah Islam. Jakarta, PT. Lentera Basritama. 1996.
[7] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997. h. 18
[8] Misbah, Muhammad Taqi. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai dan Akidah Islam. Jakarta: PT. Lentera Basritama. 1996. h.10-11.
[9] Rachman, Budi Anwar, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta. 2004
[10] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997
[11] Muhammad Nurfatoni, Tuhan Yang Terpenjara, Jakarta; Kanzun books. 2008. h. 60
[12] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997. h. 13-14
[13] Amir Tajrid, M.Ag, http://www.banker makalah.blogspot.com/2007/03/menyeimbangkan-tauhid-individual dan.html/ diakses-ada:07/12/2008
[14] Ibid
[15] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997

Dikirim pada 07 Desember 2015 di menjaga harapan dengan serpihan iman


[1] al-Qur’an adalah Cahaya
Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur’an dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “…Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.” (QS. an-Nisaa’: 174)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.” (QS. al-Baqarah: 257)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata mengenai tafsiran ayat ini, “Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.” (lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35)
[2] al-Qur’an adalah Petunjuk
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9).
Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad: 24). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” (QS. an-Nisaa’: 82)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123).
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah:
Membenarkan berita yang datang dari-Nya,
Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman,
Mematuhi perintah,
Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Mu’assasah ar-Risalah)
[3] al-Qur’an Rahmat dan Obat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu al-Qur’an), obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari al-Qur’an itu obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Israa’: 82)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an itu mengandung ilmu yang sangat meyakinkan yang dengannya akan lenyap segala kerancuan dan kebodohan. Ia juga mengandung nasehat dan peringatan yang dengannya akan lenyap segala keinginan untuk menyelisihi perintah Allah. Ia juga mengandung obat bagi tubuh atas derita dan penyakit yang menimpanya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465 cet. Mu’assasah ar-Risalah)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan pasti akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan meliputi mereka, para malaikat pun akan mengelilingi mereka, dan Allah pun akan menyebut nama-nama mereka diantara para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a’ wa at-Taubah wa al-Istighfar [2699])
[4] al-Qur’an dan Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat serta menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka berharap akan suatu perniagaan yang tidak akan merugi. Supaya Allah sempurnakan balasan untuk mereka dan Allah tambahkan keutamaan-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih.” (QS. Fathir: 29-30)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang sangat pedih. Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalian pun berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Maka niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di surga-surga ‘and. Itulah kemenangan yang sangat besar. Dan juga balasan lain yang kalian cintai berupa pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. ash-Shaff: 10-13)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak akan mendapatkan surga. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka berhasil membunuh (musuh) atau justru dibunuh. Itulah janji atas-Nya yang telah ditetapkan di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih memenuhi janji selain daripada Allah, maka bergembiralah dengan perjanjian jual-beli yang kalian terikat dengannya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 111)
[5] al-Qur’an dan Kemuliaan Sebuah Umat
Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.” (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817])
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5027])
[6] al-Qur’an dan Hasad Yang Diperbolehkan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang diberikan ilmu oleh Allah tentang al-Qur’an sehingga dia pun membacanya sepanjang malam dan siang maka ada tetangganya yang mendengar hal itu lalu dia berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.” Dan seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya maka dia pun menghabiskan harta itu di jalan yang benar kemudian ada orang yang berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.”.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5026])
[7] al-Qur’an dan Syafa’at
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an! Sesungguhnya kelak ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa’at bagi penganutnya.” (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [804])
[8] al-Qur’an dan Pahala Yang Berlipat-Lipat
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Tsawab al-Qur’an [2910], disahihkan oleh Syaikh al-Albani)
[9] al-Qur’an Menentramkan Hati
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28). Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat/merenungkan al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)
[10] al-Qur’an dan as-Sunnah Rujukan Umat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. an-Nisaa’: 59)
Maimun bin Mihran berkata, “Kembali kepada Allah adalah kembali kepada Kitab-Nya. Adapun kembali kepada rasul adalah kembali kepada beliau di saat beliau masih hidup, atau kembali kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 14)
[11] al-Qur’an Dijelaskan oleh as-Sunnah
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr/al-Qur’an supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka mau berpikir.” (QS. an-Nahl: 44). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. an-Nisaa’: 80). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Rasulullah, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir.” (QS. al-Ahzab: 21)
Mak-hul berkata, “al-Qur’an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah dibandingkan kebutuhan as-Sunnah kepada al-Qur’an.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 13). Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya as-Sunnah itu menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskannya.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 13)
Perhatikan Firman Allah berikut
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat." (Qs. Al Muddatstsir : 42-43)

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu`minuun : 99-100)

"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. Al Munaafiquun : 10-11)

"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?"(Qs. Ibrahim : 44)

"Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa`at yang akan memberi syafa`at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?.“ (Qs. Al A`raaf : 53)

"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (Qs. As Sajdah : 12)

"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka." (Qs. Al An`aam : 27-28)

"Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?" (Qs. Asy Syuura :44)

"Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Qs. Al Mu`min: 11-12)

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun." (Qs. Faathir : 37)

KALAU BESOK KAMU MATI ! MAU BAWA APA ?
SUDAHKAH ENGKAU SIAPKAN BEKAL MU ?
KALAU BELUM, MENGAPA ?
LALU TUNGGU APALAGI ?

“Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, ”Keuntungan terbesar di dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling utama dan bermanfaat untuk kehidupan akherat. Bagaimana dikatakan berakal seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat (kesenangan dunia) yang hanya sesaat?”

Wallahu a’lam bish showab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Dikirim pada 19 Oktober 2015 di Tafsir Qur’an


Allah berfirman :
لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آَيَاتِ اللَّهِ آَنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ (113) يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ (114)
Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Surat Ali Imran 113 – 114.
Inilah jalan orang yang dibekahi Allah, dalam ayat ini mereka memiliki sifat
Berlaku lurus
Membaca ayat-ayat Allah dimalam hari dasaat manusia tertidur
Besujud tuk pengakuan segala dosa
Beriman kepadaNya dan hari akhir
Menyuruh yang makruf
Mencegah yang mungkar
Bersegera dalam menunaikan kebaikan, tidak bermalas-malas.
Dalam firman yang lain :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (8) وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (9)
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Allah Telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Surat Al-Maidah 8 – 9. Dan dalam Sabdanya :
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَوَّامَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهَا مَنْ خَالَفَهَا.
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang selalu menegakkan perintah Allah tidak ada yang dapat menyesatkankanya bagi siapa saja yang menghalangi. Hadits riwayat Ibnu Majah telah dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Al-Jami’ no 7291.
Para Ulama’ salaf bersepakat bahwa iman itu bertambah dan berkurang, sebagaimana dalam perkataan seorang sahabat. Diantaranya :
عن أبي الدرداء قال: "الإيمان يزيد وينقص
Abu Darda’ berkata : Iman itu bertambah dan berkurang.
Wahai pemilik iman beristiqomahlah disaat mengamalkan islam jangan kau ragu dan bimbang karena syaiton selalu menggoda.

Dikirim pada 11 Februari 2012 di menjaga harapan dengan serpihan iman
07 Des


(keseriusan bertaubat kepada Allah
Pengertian taubat
Taubat merupakan bentuk secara khusus dengan sebuah pengertian “memperbanyak diri guna kembali kepada Allah” dengan penjelasan kembali kepada Allah dari berbagai maksiat menuju taat. Syarh Akidah Al-Wasithiyah 191-192
Umar Bin Khottab pernah ditanya tentang taubat nasuha beliau menjawab : yaitu taubatnya seseorang dari amalan buruk kemudian ia tidak akan mengulanginya selamanya. Tafsir qurthuby 18/197
Demikian pula Abdullah mengatakan Taubat nasuha adalah taubat dari perbuatan buruk lalu ia tidak akan mengulanginya lagi.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah :
Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Surat At-Tahrim :8
Beliau mengatakan Agar tidak kembali lagi bagi pelaku dosa yang ia taubati darinya dengan melakukanya dosa lagi. Tafsir Thobary 28/168.
Mujahid berkata Taubat nasuha ialah beristigfar dari dosa-dosa yang telah diperbuat lantas tidak melakukanya dosa lagi.
Dhohak berkata : taubat nasuha ialah keseriusan bahwa ia mengetahui benarlah taubatnya dari perbuatan buruknya kemudian ia wajib kembali taat kepada Allah, nah inilah yang disebut penghapusan dosa.
Disyareatkanya bertaubat
Dari Al-Qur’an, Allah Berfirman :
يا أيها الذين آمنوا توبوا إلى الله توبة نصوحا
Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Surat At-Tahrim :8
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Sesunggunya Allah mencitai orang-orang yang bertaubat (dari segala dosa) dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri (dari berbagai dosa). Surat al-Baqoroh :222
Dari Sunnah
Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya berkata, bersabda Rasulullah saw : Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat maka akan diterima Allah (taubatnya). H.R Muslim
Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khottab semoga Allah meridhoi keduanya berkata, Dari Nabi saw bersabda : Sesungguhnya Allah azza wa jalla akan menerima taubat seorang hamba sebelum nyawa berada di kerongkongan. Hr Tirmidi
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshoriy khodimnya Rosulullah saw semoga Allah meridhoinya berkata, bersabda Rasulullah saw : Sungguh, Allah lebih senang kepada taubat seorang hambaNya dari pada senangnya seseorangyang menemukan kembali ontanya (berikut muatanya) setelah sebelumnya menghilang ditengah padang sahara. Hr bukhori dan Muslim
Perkataan Ulama Salaf tentang taubat
Ibnu Qoyyim : Taubat dari dosa seperti meminum obat untuk kesembuhan yang akan mejadikan dirinya sehat kembali. Al-Fawa’id 74.
Yahya bin Mu’adz : termasuk penipuan terbesar yang menimpa seseorang adalah bergelimpangan dosa disertai sedikitnya meminta ampun tanpa kenyakinan. Tazkiyatun nafs 114.
Syarat-Syarat untuk bertaubat
Berkata Syeikh utsaimin rahimakallah :
Dilakukan ikhlas karena Allah, takut kepadaNya terhadap dosa yang telah diperbuatnya dan mengharapkan balasan pahala dariNya.
Menyesali dosa yang telah diperbuat.
Membenci dosa yang telah dilakukan dengan meninggalkan apa-apa yang telah dilarang dan mengerjakan perbuatan yang diwajibkan.
Tekat yang kuat untuk tidak melakukan dosa tersebut dikemudian hari.
Taubat dilakukan selama kesempatan masih ada yaitu sebelum nyawa berada pada tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, jika taubatnya dilakukan pada saat mau meninggal atau saat matahari terbit dari barat maka taubatnya tidak akan diterima. Syarh akidah thohawiyah 191-192.
Imam Nawawi berkata Maksiat dibagi menjadi dua
Yang berkaitan dengan hak-hak manusia
Yang berkaitan langsung dengan Allah
Adapun yang berkaitan dengan Allah ada tiga syarat untuk bertaubat :
Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.
Ia harus menyesali perbuatan (maksiat) nya.
Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.
Jika salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf kepadanya dan jika berupa qhibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf. Riyadhus shalihin 33-34/ minhajul qosidin 240.
Hukum Bertaubat
Imam Nawawi berkata : Ulama berkata Taubat hukumnya Wajib dari berbagai bentuk dosa.
Perkatanya yang lain : sungguh telah aku ungkapkan dalil yang bersumber dari al-Kitab dan Sunnah serta Ijma’ul ummah tentang Wajibnya bertaubat. Riyadhus shalihin 34.
Ibnu kudamah berkata : Taubat hukunya Wajib yang terus menerus, karena manusia tidak akan bisa melepaskan dosa. Seandainyapun ia mampu melepaskan dosa dari anggota badan maka hati akan sangat sulit terhindar dari dosa, dan seandainya hati bisa menghilangkan dosa maka ia tidak akan bisa terhindan dari bisikan syaitan yang selalu mengajak untuk meninggalkan dzikir kepada Allah, dan seandainya mampu terhindar dari syaitan ia akan terkena kelalaian dan malas dalam ilmu memahami Allah, sifat-sifatnya dan perbuatanya. Minhajul Qoshidin 238-139.
Pembagian seorang hamba dalam mepertahankan taubatnya
Seorang yang taubat yang mampu mempertahankan taubatnya sampai akhir hidupnya, orang ini berupaya mengamalkan islam dan membenci dirinya bila kembali lagi pada perbuatan dosa lantas meninggalkan perbuatan yang dilakukan manusia dalam adat yang keluar dari jalur islam, hal inilah yang disebut Taubat. sedangkan Nasuha adalah pelaku taubah tetap berada pada kebaikan islam. Juga bisa disebut telah mendapatkan ketenangan jiwa.
Seorang yang bertaubat lalu berupaya untuk berjalan menuju jalan kebaikan dan berupaya meninggalkan induk-induk keburukan, namun dia terkadang terjebur pada kemaksiatan kecil namun tidak ia sadari atau tidak disengaja inilah yang disebut Nafsul lawwamah karena pelaku taubat masih terkadang masuk kedalam perbuatan dosa walaupun tidak ia sadari.

Dikirim pada 07 Desember 2011 di menjaga harapan dengan serpihan iman
07 Des


bismillah
kenangan terindah dalam hidup ini ialah sesuatu yang dapat menggambarkan begitu indahnya hidup kita, dahulu semasa asyik bersama teman2 sepondoan ngaji bareng terdapat berbagai konflik masalah yang ada saat menuntut ilmu adang kala dibuatnya jengkel...... suatu kisah ana punya temen yang kerjanya suka bercerita namun suka tidak pas saat ia bercerita terkadang disaat kita lagi capek2nya pulang kuliyah eh... dia ngajak ngobrol namun juga namanya teman ya tetap ajalah kita dengerkan bukankah ada pepatah
bila engkau mau didengar orang maka dengarlah terlebih dahulu orang lain
perkaranya benar apa tidak pembicaraan tersebut kita selaku dai harus mampu menguraikan kebenaran kepada lawan bicara dengan cara yang arif lagi bijaksana laksana kita belajar tatacara berbicara kepada mad`u..... saat2 kuliah memang mengasyikkan...
lanjutan..... namun kita harus cerdik memasukkan faham benar kita saat orang lain berbicara biar kitalah yang mengatur alur pembicaraan... jangan sampai kita terbawa alur orang yang bercerita ya... sekali2 sih boleh.

kita lanjut kependidikan pesantren diatas.... kadangkalanya saat kita cape sekali kita bisa berbagi rasa dengan temen sepondok baik dalam rangka pembicaraan maupun sampai kerik mengerik..... jangan dikira macam2 ya justru kerikan menurut ilmu pondokan obat paling mujarab lho.... bila antum termasuk santri pondokan pastilah tau nikmatnya...
disaat kerikan itula semua aspirasi akan diluapkan didalam alur pembicaraan ada yang mau itulah din inilah pokonya banyak deh...
namun disemua pembicaraan yang paling hangan dilangan santriwan adalah masalah jodoh yang masing2 mereka memiliki impian dan keingingan namun adapula yang masih menginginkan untuk melanjutkan stady... maklum karena para santri semuanya lulusan sma wajar bila pembicaraan akhwat paling menonjol disaat itu.
berbeda ya dengan para akhwat mereka mungkin juga sama dalam hal pembicaraan namun lebih bisa menutupi pembicaraannya saat orang lain hadir ditengah pembicaran yang mereka tidak kehendaki ikut campur pembicaan tersebut. wallahu a`lam ...... yang kurang pas bisa langsung komentar...
diantara temen ana adapula yang serius belajar sampai-sampai bukupun ikut membaca keadaanya alias tertidur sedangkan bukunya diatas tubuhnya.
ikhwan fillah disemua cerita diatas gambaran secara kompleks ya memang tak bisa dihindari diantara temen 2 berbagai perbedaan pun tak bisa dihindari baik dalam segi fikroh pemikiran maupun manhaj sistem hidup dalam arah pergerakan
itulah sedikit masa indah yang pernah ku lalui di pesantren selama 4 tahun.

Dikirim pada 07 Desember 2011 di kisah nyata


Pembukaan
dakwatuna.com – Sebenarnya sudah lama kisah ini ingin saya tuliskan, tapi karena rasa malas berlarut akhirnya baru sekarang niat itu muncul kembali, berawal dari beberapa kali membaca catatan seputar dunia cinta (katanya) Islami dari para ikhwan dan akhwat yang kebenaran sumbernya masih di ragukan, bahkan dibuat menjadi mellow, mengawang ke sana kemari (membosankan), atau mungkin di ambil dari novel bernuansa religi yang ramai di tanah air, dari sinilah keinginan menulis kisah cinta yang nyata datang.
Kisah ini diambil dari rangkaian perjalanan sahabat saya yang mempunyai nama lengkap ‘Ibad Rahman’ (bukan nama sebenarnya) biasa disapa dengan Ibad, berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Kita sama-sama menuntut ilmu di Mesir, dan tinggal di dalam satu Asrama Pelajar Azhar yang sama dekat kampus tercinta, hanya saja dia lebih dahulu daripada saya 1 tahun, saya ambil jurusan Ushuluddin, sedangkan Ibad lebih memilih syari’ah Islamiyah.
Hmm….Kalau boleh jujur, kisah sepele ini sebenarnya lebih bermakna ketimbang cerita seorang pelajar bernama azzam serta kesungguhannya dalam mencari cinta yang halal dan kebenaran yang diabadikan via novel yang sangat fenomenal di tanah air ‘’Ketika Cinta Bertasbih’’ atau cerita dari Fakhri dalam novel ‘’Ayat-Ayat Cinta’’ yang puluhan kali dicetak ulang lalu difilmkan dan ditonton oleh 3,5 juta orang serta berhasil terjual lebih dari 400.000 exp. (ceritanya pun terlalu jauh dari kenyataan di tengah sahara kehidupan).
Sederhana, mudah bergaul, cerdas, pekerja keras dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu besar, dan pemberani, bukan juga tipe yang konfrontatif, oportunis apalagi glamour, melainkan pelajar dengan tipe realistis serta Professional yang berorientasi pada studi saja selama di Mesir, juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Teknologi Bandung, walau tidak lama, pandai dalam disiplin ilmu fisika, kimia dan sejenisnya, dialah Ibad seorang sahabat yang selalu teringat dalam benak saya sampai saat ini.
Jauh sebelum kuliah ke Mesir, sebenarnya dia ini tidak cakap berbahasa Arab bahkan tidak ada background pesantren., sebut sajalah orang awam dalam masalah agama, akan tetapi cinta dengan kebenaran, singkat cerita….tentunya kita pernah mendengar konflik yang terjadi di Ambon tahun 2000 pasca lengsernya rezim orde baru di tangan pemimpin partai berkuasa saat itu yang kendaraan politiknya semakin menggelitik dan sampai sekarang masih eksis.
Entah apa alasannya…akhirnya dia memutuskan untuk ikut berjihad ke Ambon dan meninggalkan kuliahnya di ITB, saya pun sempat terbakar semangatnya ketika menyaksikan video tentang Ambon apalagi saat itu masih mesantren, tapi sayangnya semangat ini tidak sebanding lurus dengan keimanan yang masih cinta akan dunia.
Benarlah Al Qur’an menceritakan perihal orang-orang yang beriman, yaitu Allah lah yang langsung membimbing mereka, terbingkai indah dalam surat Yunus ayat 9 juz 11 :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya [1]…………….
Bukan hanya berupa bimbingan sebagai balasan bagi orang yang beriman dan bertaqwa, tapi juga Allah lah yang senantiasa menjadi sang murabbi atau guru terbaik baginya, sesuai dengan surat Al Baqarah ayat 282 juz 3 :
…………Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Lain halnya dengan orang yang kufur dan tidak percaya akan tanda-tanda kebesarannya, Allah tidak akan membimbing mereka bahkan baginya adzab yang teramat pedih sebagai balasan.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS ; An Nahl ayat 104 juz 14)
Mungkin dari sinilah Allah membimbing sahabat saya untuk pergi berjihad membantu saudara seiman di tanah para syuhada Ambon sebagai awal dari datangnya hidayah kepadanya, subhanallah,…. keberaniannya membuat saya kagum sama halnya kekaguman saya kepada Rasulullah, seorang yang sederhana tapi sangat pemberani.
Anas bin Malik menuturkan, ‘’Rasulullah adalah pribadi yang paling bagus akhlaqnya paling dermawan dan paling pemberani. Suatu malam, para penduduk Madinah dikejutkan oleh datangnya suara aneh. Beberapa orang langsung menuju suara tersebut, ternyata mereka mendapati Rasulullah sudah pulang. Ternyata beliau sudah mendahului mereka menemui suara itu. Dengan masih mengendarai kudanya, beliau berkata, ‘’ mengapa kalian takut ? mengapa kalian takut ? itu hanya suara air laut. Yah, hanya suara air laut saja.’’ Beliau memang seorang kesatria pemberani. [2]
Akhirnya Ibad kembali ke Bandung setelah beberapa pekan di Ambon dengan membawa jutaan pelajaran berharga, dimana dia menyaksikan langsung kejadian demi kejadian memilukan, beberapa kerabatnya mendapatkan syahid di tanah Ambon. (Mudah-mudahan Allah menerima pahala syahid mereka…Ya Robbana)
‘’Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup [3], tetapi kamu tidak menyadarinya’’.(QS : Al Baqarah ayat 154 juz 2).
Skenario Awal Dari Sang Sutradara Kehidupan
Takdirlah yang mempertemukan mereka (Ibad dan gadis lugu) untuk pertama kali, ketika sama-sama belajar di ITB, saat itu Ibad mengikuti orientasi mahasiswa baru jenjang S1, sedangkan gadis itu pada jenjang di atasnya yaitu S2, tidak banyak cerita yang saya dapat dari kisah pertemuan mereka, karena memang frekuensi pertemuan mereka berdua pun tidaklah banyak, sempat bertemu di tempat photocopy kampus, selirik dua lirik mereka pun saling mengenal wajah tanpa banyak komunikasi alias jarang.
Sekembalinya Ibad dari Ambon seperti yang saya ceritakan pada paragraf sebelumnya, akhirnya dengan tekad bulat dia memutuskan untuk meninggalkan ITB, padahal kala itu kesempatan belajar ke Eropa pun ada dihadapannya, mengingat kecerdasan yang dimiliki dan kuatnya jaringan kampus, dia memilih untuk lebih memperdalam agama ketimbang menjadi ahli fisika dan ilmu-ilmu umum lainnya yang terlihat lebih menjanjikan di mata manusia daripada menjadi akademisi muslim yang sangat kurang diminati masyarakat sampai-sampai getarannya dirasakan juga oleh keluarga saya atau mungkin keluarga Anda.
Sebagai bukti kongkret ada sedikit cerita, awalnya keluarga tidak mendukung langkah saya pergi ke Mesir, bahkan orangtua lebih merekomendasikan saya untuk mendaftar di salah satu kampus terkenal di Sumatra Barat dan tidak perlu jauh-jauh pergi ke negeri piramida, hanya dengan sedikit kemampuan yang saya miliki untuk melobi dan rayuan khas umumnya seorang anak kepada orangtua, akhirnya saya pun bisa mendominasi jalur pikiran mereka.
Sikap dari orangtua pun bisa saya maklum karena bedanya pola pikir kami dalam menilai Islam sebuah Esensi dan faktor psikologi juga mempunyai pengaruh kuat, karena lamanya mesantren yang jauh dari rumah di Depok dan hendak kembali terpisah setelah Aliyah dengan keluarga untuk jangka waktu yang lama walau perpisahan ini hanya tuk sementara (Studi Normatif). ‘’Sambil mendoakan semoga Allah membesarkan hati mereka dan orang-orang tercinta yang saya tinggalkan selama bertahun-tahun.’’
Awal Segala Sesuatunya untuk Ibad….
Ibad pun mengikuti studi bahasa Arab di salah satu lembaga pendidikan di Bandung yaitu Ma’had Al-Imarat yang banyak di warnai pula oleh lulusan dari Timur tengah juga Lipia Jakarta. Singkat cerita…..dengan modal kecintaan pada agama, juga negaranya, serta bekal ilmu yang didapat dari Al-Imarat walau hanya beberapa bulan, Ibad memberanikan diri untuk mengikuti seleksi pelajar berbeasiswa ke Timur tengah yaitu Mesir yang difasilitasi oleh Kementerian Agama RI. Alhasil… keajaiban serta rahmat Allah pun datang padanya, dia masuk nominasi dan berhasil lulus dalam tahap penyeleksian dengan menggeser banyak saingan dari berbagai pondok modern terkenal yang berbasiskan dua bahasa asing (Inggris dan Arab).
………’’Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik’’. (QS : Al A’raaf ayat 56 juz 8)
Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.. (QS : Huud ayat 115 juz 12).
………’’ Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS : Yusuf ayat 90 juz 13).
……………….Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS : An Nahl ayat 128 juz 14).
Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.(QS : Al Kahfi ayat 30 juz 15).
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS : Al ‘Ankabuut ayat 69 juz 21).
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS : Muhammad ayat7 juz 26)
Terlampau banyak ayat yang memuji orang-orang baik dalam Qur’an sebagaimana banyak juga ayat yang menyentil orang-orang yang kurang baik atau tidak baik sama sekali, paling tidak….beberapa ayat di atas bisa memberikan secuil gambaran dan menambah cakrawala baru seputar dunia Islam dan literaturnya.
Kejadian sahabat saya ini mengingatkan kita akan bukti dan janji Allah terhadap orang-orang yang tulus hatinya dalam mencintai Allah serta menjaga dan memperjuangkan agamanya dengan jiwa raga serta hartanya dengan memberinya Ilmu dan Hikmah atau menjadikannya pribadi dewasa yang tidak sembarang orang bisa mendapatkannya, sebagaimana Allah memberikannya kepada nabi Yusuf.
Dan tatkala dia cukup dewasa [4] Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. ( QS : Yusuf ayat 22 juz 12).
Juga ada kisah yang sangat menyentuh kita perihal ketaatan dari dua nabi Allah (Ibrahim dan Ismail) sebagai balasan bagi hamba-hambanya yang berbuat baik, lengkapnya di surat Ash Shaaffaat ayat 83-111 juz 23. tuk lebih jelasnya bisa dikaji secara perlahan sambil membuka tafsiran para ulama terkemuka di rumah masing-masing.
Kesan Pertama Seorang Gadis
Waktu pun bergulir seiring dengan semangat Ibad untuk lebih memperdalam agama ke negeri kinanah, konon katanya kiblat ilmu (agama) adalah Mesir, tahun 2003 sebelum keberangkatannya, tanpa disangka-sangka setelah terakhir kali pertemuan mereka di tempat photocopy kampus dan sekian lama terpisah oleh diam, ruang, jarak, dan dinding waktu mereka dipertemukan kembali oleh Allah di bandara Soekarno-Hatta, percakapan singkat pun terjadi antara dua insan yang sama-sama sibuk dengan urusannya, ‘’ kamu mau ke mana, Tanya gadis lugu tersebut, ke Mesir jawabnya singkat’’.
Jawaban dari Ibad ternyata memberi kesan mendalam bagi sang gadis, dia membayangkan ketika mendengar kata Mesir itu ‘identik’ dengan para pelajar Islam yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran, berharap mempunyai pendamping yang bisa membimbingnya dalam masalah agama, pendek kata komunikasi pun berlanjut dengan lebih memanfaatkan kekinian, akhirnya mereka berdua pun saling bertukar alamat email.
Begitu mendalamnya kesan gadis lugu kepada Ibad, sampai-sampai dengan semangatnya gadis tersebut menjaga komunikasi via mail, sebenarnya Ibad lebih memilih fokus dalam belajar, akan tetapi hari demi hari, hingga sampailah dia pada tahun ke-2 di Mesir, gadis tersebut memintanya untuk menjadi pendamping….Wawww..benar-benar dahsyat sahabatku yang satu ini, ternyata bukan hanya Rasulullah yang di taksir berat oleh wanita kaya (Khadijah) karena ketulusan hatinya, manusia seperti kamu juga bisa (sambil menggelengkan kepala).
Ibad tidak lantas mengiyakan keinginan gadis lugu tersebut. Hanya saja mengatakan kepadanya,, ‘’ oh y….jika kamu benar-benar serius, alangkah baiknya kamu datang ke rumahku di Bekasi, kalau orang tuaku setuju…is okey. Jawab ibad, konteksnya begitu, adapun tuk redaksi aslinya bisa di kembangkan di alam pikiran para pembaca sekalian., hehe
Rupanya gadis tersebut memang naksir berat, saking beratnya, hilanglah rasa gengsi sebagai seorang perempuan yang datang ke rumah laki-laki untuk sekedar meminta restu orangtua si laki-laki, padahal kalau kita perhatikan di zaman sekarang, jika ada lelaki yang berkata seperti Ibad, jawaban dari para gadis, ‘’emangnya cowo cuma kamu aja, yeehhhhhh’’ hehe….
Begitu kaget keluarganya di Bekasi ketika kedatangan tamu seorang gadis berparas cantik,, tampak dari wajahnya ketulusan dan kebaikan, bermaksud untuk melamar anaknya yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Tahukah Anda …… apa yang di katakan orangtua Ibad kepadanya ketika ada seorang wanita datang tuk melamar, kurang lebih begini,’’ kamu ini gimana seh…ada wanita cantik begini ko tidak di iyakan. Begitulah kurang lebih, hehe
Indah Pada Waktunya…
Akhirnya di tahun 2005 pulanglah sosok yang di idamkan oleh sang gadis ke tanah air dan menikahlah dua insan yang sebenarnya sama-sama jatuh cinta, hanya saja kecintaan Ibad kepadanya sedikit tergeser dan tersembunyikan dengan semangatnya dalam mencari ilmu, untung saja gadis tersebut cerdas dan pandai membaca keadaan.
Gadis tersebut ialah lulusan ITB yang saat ini menjadi seorang dosen di salah satu kampus ternama di Jakarta yaitu Universitas Trisakti, Anda bisa bayangkan berapa nominal materi yang di dapat jika Anda bekerja di sana, belum lagi dia aktif dalam mengisi seminar nasional dan internasional, 7 juta pun itu adalah nominal terendah, bahkan bisa belasan juta atau lebih, ditambah lagi dia berasal dari keluarga yang mampu dan tinggal di bilangan kawasan elit Jakarta, berbeda dengan Ibad yang hanya berasal dari keluarga sederhana di Bekasi.
Sebelumnya gadis yang usianya di atas kepala 3 disaat menikahi Ibad yang baru berumur sekitar 25 tahun, terpaut perbedaan antara keduanya lumayan jauh sekitar 10 tahun, beberapa kali menolak lamaran dari lelaki mapan lagi gagah, padahal kalau mau dibandingkan dengan Ibad, tentunya masih jauh, dia masih pelajar, masa depannya pun belum jelas, hanya bermodalkan ilmu agama dan kecintaan yang tulus kepada Tuhannya.
Kembali lah Ibad ke Mesir untuk menyelesaikan study karena masih ada 4 semester untuk mendapatkan gelar Lc, tapi Ibad tidak merasa sedih berlebih apalagi khawatir, karena sisa 2 tahun di Mesir ternyata di jamin oleh pihak istri, jadinya setiap semester Ibad pulang ke tanah air untuk berbulan madu, Anda tahu….hanya orang-orang elit serta para diplomatlah yang bisa pulang pergi ke tanah air, dan yang ketiga adalah Ibad, hehe…
Dari cerita unik sampai yang mengharukan pun kami dapat dari Ibad, bercengkerama santai menjadi topik pembicaraan di asrama bersama teman-teman seperjuangan, mulai dari Ibad yang menjadi seperti direktur, karena ke mana-mana selalu istrinya yang menyetir mobil, termasuk berbulan madu ke puncak, maklum.., karena Ibad tidak bisa menyetir mobil ketika itu, sedangkan mobil bagi istrinya adalah kendaraan pribadi yang senantiasa menghiasi hari-harinya di kampus.
Di mata kami Ibad adalah sosok lelaki yang penuh dengan tanggung jawab, perbedaan kondisi sosial antar dia dan istrinya menjadi bahan pertimbangan yang cukup berarti, bagaimanapun dia adalah kepala rumah tangga yang wajib menafkahi istrinya, walau kala itu dia belum berpenghasilan tetap dengan gaji yang tidak sebanding dengan istrinya, dia pun tinggal sementara di rumah yang menurutnya terlalu mewah bersama keluarga istrinya sambil membimbing masalah agama dan mengkaji Islam secara utuh bersama keluarga barunya.
Pernah suatu ketika Ibad pun pergi berjualan perangkat kebutuhan ibadah di sekitar masjid tidak jauh dari rumah barunya di PMI (Pondok Mertua Indah), sampai akhirnya terlihat oleh istrinya, dibawanya dia masuk ke dalam mobil bermaksud mengajaknya segera pulang dengan linangan air mata dari seorang istri yang begitu menyayanginya, tak habis pikir melihat suami berjualan seperti itu.
Entah kenapa menangis, Ibad pun sedikit heran dan berusaha menjelaskan bahwasanya dia ingin mencari pekerjaan yang halal walau hanya sebatas jualan kecek-kecek. Subhanallah…..
Lama sudah saya dan Ibad tidak saling menyapa, lebih dari 4 tahun, pertemuan terakhir kami di tahun 2007 sebelum dia pulang ke tanah air dengan membawa ilmu dan ijazah Azhar tentunya.
Wahai Ibad Rahman Sahabatku…..
Walaupun ruang, jarak, waktu menjadi dinding pemisah di antara kita, segumpal darah bernama hati dengan izin Allah takkan pernah menjadi penghalang untuk kita tetap dalam Ukhuwah Islamiyah. Semoga kenangan manis kan terukir nantinya.
Kebenaran Janji Allah
Kisah Ibad di atas sebenarnya sebuah Studi Normatif abad modern, karena Allah sendirilah yang menjamin orang-orang baik lagi beriman dengan kehidupan yang layak di dunia dan akhirat.
I. An Nahl ayat 97 juz 14 :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’’
Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki atau perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Paling tidak ada dua point penting yang bisa kita ambil dalam ayat di atas, di antaranya :
Ganjaran di dunia : Berupa kehidupan yang layak
Ganjaran di akhirat : Kompensasi dari Allah berupa pahala berlipat
II. An Nuur ayat 55 juz 18 :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Beberapa janji Allah sangat jelas, di antaranya :
Menjadi Pemegang kepentingan. (Stakeholders)
Dikuatkan agamanya (Strong in faith)
Kenyamanan hidup (Comfortable in life)
Untuk mendapatkan tiga point di atas ternyata tidak terlalu sulit, hanya butuh usaha lebih, Bahkan Allah ta’ala hanya memberikan satu syarat saja setelah iman dan amal soleh yaitu.: Menyembah Allah ta’ala tanpa menyekutukannya dengan hal apapun.
Catatan tambahan sebagai penutup
Menuju kebahagiaan tentunya membutuhkan proses, apalagi dalam membina rumah tangga ideal atau yang biasa disebut keluarga SAMA RATA (Sakinah, Mawaddah, Penuh Rahmat dan tentunya takut sama Allah)
Pastikan kalau keduanya harus saling mencintai karena Allah sebagaimana cintanya Rasulullah dan Khadijah, Ali dan Fatimah, juga ada contoh terkini Ibad dan Istrinya, Bj. Habibie dan Hasri Ainun Besari, juga orang tua kita pun bisa sebagai contoh nyata (Insya Allah). Menikah bukanlah atas dasar paksaan, dipaksa, atau karena ‘iba’ terhadap salah satu pihak, karena yang demikian tentunya bisa berujung pada penyesalan kelak.
Bagaimanapun para lelaki berhak untuk memilih belahan jiwanya sebagaimana para wanita juga berhak untuk menolak lamaran para lelaki yang dirasa kurang ‘’klik’’ dengannya, jika pun ingin menolak tolaklah dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati, biarkanlah hati nurani dan akal sehat kita yang memilih dan jika pun menerima jangan lupa bersyukur sambil mengucap “Alhamdulillah yach’’ s.e.s.u.a.t.u ….hehe
Kalau sudah tercipta keluarga SAMA RATA, maka dengan mudah kita bisa berjalan di atas garis pasir pantai yang sama demi menuju negeri impian idaman setiap insan yaitu Surga ‘Adn, bersama keluarga besar kita. Ya Robbana…..
(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; [23] (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” [5]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.[24]. QS : Ar Ra’d ayat 23-24 juz 13.
Catatan ringan di atas memberikan setitik wacana kepada kita untuk memetik sebuah analisa menarik bahwa’’ Tiada yang membuat wanita solehah meneteskan air mata bahagia melainkan melihat pujaan hatinya (suami) takut kepada Allah’’. Wallahu a’lam….
Saya cukupkan cerita singkat ini dengan sama-sama bermunajat “Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi pribadi yang tidak hanya soleh/solehah saja yang bersifat personal tapi juga menjadi pribadi muslih / muslihah yang kolektif. Ya Robbana…..”
Sekarang… pertanyaan dari saya adalah:
Tahukah Anda siapa Ibad Rahman?
Lalu seperti apa kepribadian detailnya?
Apa kelebihannya dibanding hamba Allah yang lain?
dan bisakah kita menjadi sosok seperti yang saya tanyakan?
‘’Jawabannya ada di Surat Al Furqaan ayat 61-77 juz 19’’ (jangan lupa yah… baca teks Arabnya juga, selamat mengkaji, insya Allah khair).

Catatan Kaki:
[1]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.
[2]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya IV : 1802.
[3]. Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
[4]. Nabi Yusuf mencapai umur antara 30 – 40 tahun.
[5]. Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu

Dikirim pada 18 Oktober 2011 di menjaga harapan dengan serpihan iman


Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga’ ya? Bahaya ngga’ ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal itu?

Memiliki rasa cinta adalah fitrah

Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya…… dahsyat man…… yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe’ akhirnya……. pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti’in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak …. dukun pun ikut bertindak.
Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga’ terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul ‘udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo’ kagak terpenuhi manusia ngga’ bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga’ tenang) sampe’ terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :
Gharizatul baqa’ (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau’ (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.

Pacaran dalam perspektif islam

In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q. S. Al Isra’ : 32)
Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do’i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So….kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.

Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.”(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (HR. Imam Bukhari Muslim).
Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (Q. S. An Nuur : 31).

Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA’ (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga’ punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur’an: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”
Wallahu A’lam bish-Showab
Oleh: Buletin Dakwah Remas RIH

Dikirim pada 16 Oktober 2011 di menjaga harapan dengan serpihan iman


Seorang sahabatku, Mimi namanya, kami bersahabat puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar (SD). Mimi gadis sederhana, anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja dan akan runtuh hatinya jika memandang senyumnya. Termasuk saya.

Dan nilai tambahnya adalah dia seorang yang sangat soleha, yang patuh pada kedua orang tuanya. Tetapi Ranu, ‘’don juan`’ yang satu ini juga sangat menyukai Mimi. Track record-nya yang begitu glamor dan mentereng tidak meragukan untuk merebut hati Mimi.
Sedangkan saya, hanya bisa menatap cinta dari balik senyuman tipis ketegaran. Karena saya tidak mau persahabatan kami hancur.
Lambat laun, Mereka pun pacaran dari mulai kelas 1 SMP hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus sahabat yang baik, saya hanya bisa mendukung dan ikut bahagia dengan keadaan tersebut (walaupun hati ini sedikit teriris). Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung. Hingga tiba ketika selesai kuliah, mereka berdua ingin mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga, yang sakinah, mawaddah, dan warohmah.
Namun, namanya hidup pasti ada saja kendalanya, di balik kesejukan melihat hubungan mereka yang adem ayem, orang tua Ranu yang salah satu pejabat di daerah itu, menginginkan Ranu menikahi orang lain pilihan kedua orang tuanya. Namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi, sehingga mereka memutuskan untuk menikah, sekalipun di luar persetujuan orang tua Ranu. Dan secara otomatis, Ranu diharuskan menyingkir dari percaturan hak waris kedua orang tuanya, disertai sumpah serapah dan segala macam cacian.
Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi. Setelah menikah, mereka pergi menjauh keluar dari kota kami, Dumai, menuju Pekanbaru, dengan menjual seluruh harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah meninggal.
Masih tajam dalam ingatan, Mimi pergi bergandengan tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya Ranu, melenggang pelan bersama mobil yang membawa mereka menuju Kota Bertuah.
Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar. Hingga tahun kelima, di mana aku masih sendiri dan masih menetap tinggal di Dumai, sedang Mimi entah kemana, hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat terakhir mengabarkan bahwa dia melahirkan anak keduanya, kemudian setelah itu kami tidak mendengar kabarnya lagi.
Sampai di suatu siang yang terik, di hari Sabtu, kebetulan saya berada di rumah tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamar. Temanku mengatakan ada tamu dari Pekanbaru. Siapa gerangan? Pikirku ketika itu.
Sejenak aku tertegun ketika melihat sosok perempuan di depan pintu, lupa-lupa ingat, hingga suara perempuan itu mengejutkanku,”Faris….Faris kan!” katanya.
Sejenak, dia ragu-ragu, hingga kemudian berlari merangkulaku, sambil terisak keras di bahuku. Saat itu aku hanya bisa diam tertegun dan tak tahu hendak melakukan apa, meskipun aku tahu dia bukan muhrimku.
Kemudian aku menjauhkannya dari bahuku sambil masih ragu, bergumam pelan, “Mimi…Mimikah?”
Masyaallah…Mimi terlihat lebih tua dari usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas. Badannya kurus dengan jilbab lusuh yang berwarna buram, membawa tas koper berukuran besar yang sudah robek di beberapa bagian.
Semula Mimi terdiam seribu bahasa pada saat aku tanya keadaan Ranu, matanya berkaca-kaca, aku menghela nafas dalam, menunggu jawabannya.
“Mas Ranu, Ris….Mas Ranu sudah berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu.”
Kata-kata Mimi membuatku tercekat beberapa saat, namun sebelum aku sempat menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil bercerita, “Mas Ranu kena kanker paru-paru, karena kebiasaannya merokok tiga tahun yang lalu, semua sisa peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes, untuk biaya berobat, sedang penyakitnya bertambah parah. Keluarga mas Ranu enggan membantu, kamu tahu sendiri kan, aku menantu yang tidak diinginkan, dan ketika Mas Ranu meninggal, orangtuanya masih saja membenciku, mereka sama sekali tidak mau membantu,” katanya.
Dia bercerita, dia bekerja serabutan di Pekanbaru, mulai jadi tukang cuci, pembantu rumah tangga, dan sebagainya, hingga suaminya meninggal. “Keluarganya, hanya memberiku uang sekadarnya untuk penguburan Mas Ranu, hingga aku terpaksa menjual rumah tempat tinggal kami satu-satunya, dan dari sana aku membayar semua tagihan rumah dan hutang-hutang pada tetangga, sisanya aku gunakan untuk berangkat ke Dumai, aku tidak sanggup mengadu nasib di sana Ris,” kata-kata Mimi berhenti di sini, disambut isak tangisnya. Sedang aku yang sedari tadi mendengarkan tak kuasa juga menahan haru yang sudah sedari tadi menyesak di dada.
Mimi tertegun… dia memandangku nanar. kemudian dia mengulurkan tangan, memberikan seuntai kalung emas besar, sisa hartanya.
“Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami aku uang untuk modal usaha, dan kontrak rumah kecil-kecilan, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini Ris.”
Pelan-pelan aku meraih kalung itu dari meja, menimbang-nimbang, pikiranku melayang menuju sisa uang di amplop, dalam tas. Jumat kemarin aku baru mendapat gaji. Sebagai pegawai di suatu instansi, gajiku sangatlah kecil jika dibandingkan dengan pegawai yang lain tentunya, tapi itulah sisa uangku. Aku mengeluarkan amplop tersebut dari dalam tas, di kamar, semua kuinfaqkan untuk Mimi, semata mata karena ikhlas.
Mimi menatap amplop di tanganku, sejurus kemudian aku meletakkan amplop tersebut di atas meja sambil berkata, “Ini sisa uangku Mimi, kamu ambil, nanti sisanya biar aku pikirkan caranya, kamu butuh modal banyak untuk mulai usaha.”
Singkat cerita, Mimi bisa mulai usahanya dari modal itu, mengontrak rumah kecil di dekat rumah saya.
Alhamdulillah, sekarang di tahun kedua, usahanya sudah menampakkan hasil. Mimi sudah sedemikian mandiri, banyak yang bisa aku contoh dari pribadinya yang kuat yaitu Mimi adalah pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif.
Mimi tetanggaku kini dan setiap pagi selalu menyapa riang aku, wajah cantiknya kembali bersinar.Dia juga tekun mendengar keluh kesahku pada setiap permasalahan yang aku hadapi setiap harinya, termasuk ketika aku mulai mengeluh tidak betah di kantor sebagai pegawai sekian tahun, atau ketika aku menghadapi badai kemelut usia yang sudah berkepala tiga belum juga menemukan jodoh.
“Faris, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan seseorang atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan kamu tidak.”
Lalu Mimi mengajak aku melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu yang ia jadikan ruang tidur, sedangkan kamar tidur ia jadikan dapur untuk memasak (sungguh rumah yang mungil). Mereka berjejal pada tempat tidur susun yang reyot, kemudian katanya, “Lihatlah Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa bantuan bahu yang lain, kalau tidak terpaksa karena nasib, enggan aku menjalaninya Ris. Sedang kamu, bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang panjang.”
Aku pun berhenti dari pekerjaan yang lama, sekarang aku bekerja lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja aku melintas di depan rumah Mimi, dan terus memperhatikan ketegarannya, akhirnya Allah menumbuhkan kembali cinta di hatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Allahu Akbar….

Dikirim pada 15 Oktober 2011 di Rubik Ikhwan


Pengertian:
Problematika Umat Islam adalah hilangnya eksistensi umat Islam seperti yang telah disinyalir/disebutkan di dalam Al Qur’an (Idealita # Realita). Problematika Ummat Islam bersumber dari : Ekstern (musuh-musuh Islam) dan Intern Ummat Islam.
I. Idealita (Islam pada masa Rasulullah saw hidup dan sahabatnya)
A. Umat yang terbaik ( خيرأمة )
Dalil: Qs. 03:110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Artinya :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. )Qs. 03:110(

Hadits Nabi :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ مِنْ بَعْدِهِمْ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَتُهُمْ أَيْمَانَهُمْ وَأَيْمَانُهُمْ شَهَادَتَهُمْ (رواه البخاري ومسلم والترمذي وابن ماجه وأحمد)
Artinya : ………..Sebaik-baik manusia adalah zamanku kemudian generasi sesudahnya dan kemudian generasi sesudahnya, dan setelah datang suatu kaum sesudah mereka yang persaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului persaksian mereka (tidak bisa dipercaya lagi). (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Ciri-ciri umat terbaik:
Memerintahkan kepada hal yang ma’ruf ٍٍََ (QS. 5:2)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya :
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah : 2)

Mencegah/melarang yang mungkar.
Hadits Nabi :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه البخاري والترمذي والنسائي وأبو داود وابن ماجه وأحمد)
Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya (kekauasaannya), apabila tidak bisa maka denga lisannya, apabila tidak bisa dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman (HR. Bukhari, Muslim, At-Titmidzi, A-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Beriman Kepada Allah swt. (Ciri orang beriman pada QS. 23:2–9)
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ(3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ(4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ(8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(9)
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. (QS. 23 : 2- 9)

Dengan ketiga ciri tsb dan kedudukannya sebagai umat yang terbaik maka fungsi/tugas umat Islam:
Memimpin manusia
Mendidik (menjadi pengajar/peng-arah) manusia

B. Umat Pertengahan/Umat yang lurus ( أمة وسطا )
Dalil: Qs. 02: 143
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Umat pertengahan: mengandung pengertian bahwa Islam tidak berkiblat pada Timur atau pun Barat. Islam mengenal konsep tawazun (menempatkan sesuatu pada porsinya)

Konsep tawazun:
Antara Dunia dan akhirat.
Dalil: Qs. 28:77
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi.

Dalam sejarah sebelum Islam dikenal 2 kelompok yang sangat ekstrim dalam memahami kehidupan dunia.
a. Kelompok pertama : golongan Yahudi dan kaum musyrikin. Dalil: Qs. 2:96 :
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ
Artinya : Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun.

b. Kelompok kedua : kaum Nashrani, yang menafikan kepentingan dunia (contoh kehiduan rahib yang tidak mau menikah).

Antara Material dan Spritual (Kisah 3 orang sahabat yang ditegur oleh Rasulullah karena ingin terus-menerus sholat malam dan tidak tidur, ingin teris puasa dan tidak mau berbuka serta ada yang ingin beribadah terus dan tidak mau menikah).
Antara Kepentingan Pribadi dan Masyarakat Umum (Rasulullah selalu memperhatikan peningkatan kualitas pribadi dan kualitas ummat secara keseluruhan sampai akhir hayat beliau).

C. Umat yang Satu ( أمة واحدة )
Dalil: Qs. 21:92,
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.

Firman Allah Qs. 23:52
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

Satu dari segi:
Aqidah (aqidah ahlussunnah wal jamaah) ---- Lihat Buku Aqidah Ahlussunah wal Jamaah.
Pemimpin (Rasulullah kemudian para Khalifah Ar-Rasyidah)
Jama’ah (Jamaah Islamiyah yang pertama didirikan oleh Rasulullah di Madinah) sampai pada kekhalifahan Utsmaniyah yang terakhir yang dipimpin oleh Sultan Abdul hamid II di Turki dan ditumbangkan oleh kaki tangan Yahudi Kemal Attaturk.
Dengan satunya umat Islam dari ke-3 segi tsb menyebabkan terbentuk daulah Islamiyah, terus berlanjut hingga tegaknya khilafah Islamiyah.

II. Realitas Umat ( واقع الأمة ):

A. Umat yang terjelek ( شرأمة )
Dalil: Qs. 9:67 (golongan munafik)
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ
Artinya : Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.

Ciri-ciri umat terjelek/munafik dari ayat di atas :
Menyuruh kepada kemungkaran
Melarang hal yang ma’ruf
Lupa kepada Allah.

Hadits Rasulullah صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
Abu Said Al Khudry r.a. berkata: Nabi saw bersabda:
لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ (رواه البخاري ومسلم وأحمد)
“Sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak/cara-cara orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau pun mereka masuk ke dalam lubang biawak pasti kalian mengikutinya.” Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?,” Jawab Nabi صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).


B. Umat Pengikut/Pembeo ( أمة متبعة )
Ikut-ikutan dengan umat di luar Islam, dari segi:
Cara Berfikir/Ideologi (Seperti dasar negara, hukum, peraturan, dsb)
Aqidah/Keyakinan (muncul bid’ah yang mencontoh agama lain, seperti Maulid yang mencontoh Natal, Isra’ Mi’raj yang mencontoh peringatan Kenaikan Isa Al-masih orang nasrani, dll)
Pergaulan/Tingkah Laku (Pergaulan bebas, emansipasi wanita, dll)
Ikut perilaku orang kafir (pola hidup, cara berpakaian, norma berumah tangga, dsb)
Rasulullah Bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أبو داود)
Artinya : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

C. Umat yang berpecah belah ( أمة متفرقة )
Awal perpecahan akibat jatuhnya khilafah Islamiyah.
Perpecahan umat Islam dari segi:
Ideologi à Masing-masing kelompok mempunyai sistem tersendiri dalam berideologi/bernegara yang berdasarkan hasil pemikiran mereka semata.
Fikrah à Masing-masing kelompok mendakwakan dan memperjuangkan Islam sesuai dengan ijtihad masing-masing tanpa merujuk kepada Rasulullah SAW. ….Lihat Sabili No. 13/IV/1412
Aqidah dan Ibadah à ditandai dengan munculnya bid’ah dan khurafat (khususnya dalam Tauhid Asma Wasshifat dan beberapa bentuk ibadah)..

Dalil-dalil yang menyuruh kita untuk bersatu dan berpegang teguh pada Al-Quran dan Petunjuk rasulullah sangat banyak, diantaranya : Qs.3:103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Firman Allah Qs.30:31-32
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32)
Artinya : dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Hadits Rasulullah :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه وأحمد)
“Barang siapa beramal bukan dari sesuatu dari yang kami perintahkan, maka amal itu tertolak. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu majah dan Ahmad)

Hadit Rasulullah saw:
إتَقُوْا الله وَعَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَإِنَّهُ مَنْ يَعِْشُ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسِيَرَ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذْ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٍ (ابن أبي عاصم وأحمد)
“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah swt, patuh dan taat, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi, sebab barang siapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur-rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk, dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat (HR. Ibn Abi Ashim).
إِنَّ أَهْلَ الْكِتََابَيْنِ افْتَرَقُوْا فِيْ دِيْنِهِمْ عَلىَ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةَ وَإِنَّ هّذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلىَ ثَلاثِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً يَعْنِيْ [اًلْأَهْوَى كُلُّهَا فِيْ النَّارِ إِلَّا وَحِدَةٍ وَهِيَ الْجَمَاعةُ.(رواه أحمد)
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlil kitab telah terpecah belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan satu golongan di dalam surga, yaitu Al-Jama’ah.” (H.R Ahmad)

III. Sebab-Sebab Problem
A. Krisis Iman dan aqidah
Tanda-tandanya:
Tidak komitmen terhadap ad-dien.
“Akan datang suatu zaman pada manusia, ketika itu tidak tinggal Islam kecuali namanya saja, dan tidak tinggal Al Qur’an kecuali tulisannya saja, masjid-masjid dibangun megah, namun kosong dari petunjuk, dan ulama mereka adalah makhluk yang terjelek yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (fitnah) itu akan kembali kepada mereka.” (HR. Al Baihaqy)
Ditambah dengan adanya issu dan tuduhan fundamentalis serta teroris dari musuh Islam bagi mereka yang iltizam dengan agama Islam.
Tertimpa penyakit buih: “wahn” à Cinta dunia dan takut mati…..lihat Sabili No.34/Thn II Februari 1991.
Rasulullah bersabda :
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ (رواه أبو داود وأحمد)
“Akan datang suatu masa, (ketika itu) umat lain (non Islam) akan memperebutkan kalian ibarat orang yang lapar memperebutkan makanan dalam suatu hidangan.” (sahabat) bertanya: “Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami (kaum muslimin) sedikit wahai Rasulullah?.” Dijawab oleh Nabi saw: “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlahmu waktu itu mayoritas, tetapi kualitas kalian ibarat buih yang terombang-ambing di atas air bah, dan diturunkan pada kalian penyakit Al wahn.” Sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud Al wahn ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) >< Zuhud dan cinta syahid.

Meninggalkan Jihad Fii Sabiilillaah
Salah satu sebab Islam dihinakan oleh golongan di luar Islam karena kaum muslimin meninggalkan Jihad Fii sabiilillaah.
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ. قَالَ أَبُو دَاوُد الْإِخْبَارُ لِجَعْفَرٍ وَهَذَا لَفْظُهُ (رواه أبو داود)
“Apabila kalian sudah berjual beli dengan ‘inah, senang dengan pertanian, dan mengikuti ekor-ekor sapi serta meninggalkan jihad fii sabiilillaah, maka Allah swt memasukkan kalian ke dalam kehinaan. Dia tidak mengangkatnya sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (HR. Abu Daud)

Krisis Ukhuwah Islamiyah. …..lihat Sabili No.04/Thn V Oktober 1992
Ummat Islam sudah tidak melaksanakan ukhuwah dengan sebenarnya sebagaimana yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat.
Tingkatan-tingkatan/urutan-urutan ukhuwah dalam Islam:
Yang terendah à bebas dari rasa dengki - lapang dada. Dalil QS.59:10.
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Pertengahan à mencintai saudaranya sama dengan mencintai dirinya sendiri.
لايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَ لأخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه مسلم)
Artinya : Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya. (HR. Muslim).
Yang tertinggi à rela berkorban - mengutamakan saudaranya atas dirinya sendiri. Dalil Qs. 59:09.
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Artinya : Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

Banyaknya terjadi perpecahan sesama muslim, disebabkan:
Tidak adanya rasa cinta sesama muslim.
Padahal harus seperti pada firman Allah dalam Qs. 48:29
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.

Tidak adanya upaya saling ta’aruf (kenal-mengenal) di antara mereka.
Semestinya seperti dalam firman Allah Qs. 49:13
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Sikap permusuhan dan rasa benci. (Fanatik golongan/kemlompok = Azabiyah)
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ)رواه أبو داود)
“Bukan golonganku orang-orang yang menyeru kepada ashabiyah, dan bukan golonganku orang yang berperang karena ashabiyah, bukan golonganku orang-orang yang mati dalam membela ashabiyah.” (HR Abu Dawud)

C. Tidak adanya pemimpin umat à Akibat langsung dari runtuhnya khilafah Islamiyah

IV. Sebab Musabab dari semua problem di atas:
“Jauhnya (kebodohan) umat Islam dari Al Qur’an.” Sehingga terjadi Krisis Ilmu pengetahuan dan kebodohan. Adapun penyebab kebodohan :
- Hilangnya minat/semangat untuk belajar
- Tidak adanya gairah membaca

Dalil: Qs.20:124;
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Artinya : Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Qs. 25:30
وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا
Artinya : Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur`an ini suatu yang tidak diacuhkan".

Qs. 43: 36-37
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ(36)وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (37)
Artinya : Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur`an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

Hadits Nabi :
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد والدارمي)
“Sesungguhnya Allah swt mengangkat beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain dengan Al Qur’an ini.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darimi)

V. Solusi :
Jalan keluar dari problem :
Mendekatkan umat kepada Al Qur’an (Jihad bil Qur’an)
Dalil: Qs. 25:52 :
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
Artinya : Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur`an dengan jihad yang besar.

Caranya bisa berupa mengintensifkan kajian-kajian ke-Islaman, Melalui program Tarbiyah (pembinaan/pendidikan) Islamiyah secara berkesinambungan.

Firman Allah Qs. 3:164,
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Firman Allah Qs. 62:2,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Firman Allah Qs. 33:34,
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
Artinya : Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

Termasuk kiat-kiat tsabat/istiqamah adalah tarbiyah imaniyah yang terus menerus dengan dilandasi oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah (Syaikh Munajjid dalam kitab وسائل الثبات)

Mengkaji dan mempelajari ajaran Islam secara totalitas: sehingga nantinya lahir genersi Rabbani yang akrab dengan Al Qur’an (generasi Qur’ani) yang mengamalkan ajaran Islam, menda’wahkan Islam.
Firman Allah Qs. 2:208,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Firman Allah Qs. 3:79,
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Artinya : Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.




Menurut Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Al Hakim bahwa yang dimaksud dengan sebaik-baik umat dalam ayat ini adalah para sahabat yang berhijrah bersama Rasulullah saw dari Mekah ke Medinah. Namun sebenarnya maksud ayat ini umum bagi umat Muhammad saw seluruhnya dari generasi pertama sampai generasi yang mengikutinya, dst. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir)


Dikirim pada 29 September 2011 di menjaga harapan dengan serpihan iman
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Dari Muhammad bin al-Munkadir berkata ; Aku memilih sebuah tiang khusus di masjid Rasulullah shallallah ‘alihi wa-sallam yang biasanya aku duduk dan shalat malam di dekatnya. Ketika penduduk Madinah dilanda kemarau panjang, mereka ramai-ramai melakukan Istisqo’, tetapi hujan tak kunjung datang. Disuatu malam seusai menunaikan shalat Isya’ aku bersandar pada tiang pilihanku, tiba-tiba datang seorang berkulit hitam menuju ke tempat aku bersandar. Ia di sisi depan dan aku di sebaliknya. Dia shalat dua raka’at lalu duduk dan berdo’a, “Duhai Rabbku, penduduk kota Nabi-Mu telah keluar untuk meminta hujan tetapi Engkau belum mengabulkannya. Maka, aku bersumpah pada-Mu agar Engkau menurunkannya.” Aku bergumam, “Orang gila.” Tetapi belum sempat dia meletakkan tangannya kudengar suara bergemuruh dan turunlah hujan yang membuatku ingin pulang. Tatkala mendengar suara hujan orang itu memuji Allah ‘Azza wa-Jalla dengan pujian yang belum pernah kudengar sama sekali. Lalu dia berdiri shalat. Menjelang Shubuh, barulah ia sujud , lalu berwitir dan shalat fajar. Kemudian terdengar iqomah, maka ia pun berdiri dan melaksanakan shalat bersama orang banyak. Demikian juga aku. Setelah imam salam ia keluar dan aku ikuti. Sesampai di pintu masjid ia keluar sambil mengangkat kainnya agar tidak basah. Aku mengikutinya, tetapi karena aku sibuk dengan bajuku agar tidak basah aku tidak tahu kemana ia pergi. Di malam berikutnya kutunggu dia di tiang yang sama. Dan ia pun datang, berdiri shalat sampai menjelang Shubuh. Lalu sujud, melaksanakan shalat Witir, shalat fajar dan shalat Shubuh. Setelah imam salam, ia keluar dan aku mengikutinya sampai ia memasuki sebuah rumah. Lalu aku kembali ke Masjid. Ketika matahari sudah tinggi, aku melaksanakah shalat (Dluha) lalu pergi menemui orang itu. Ternyata orang itu adalah tukang sepatu. Tatkala melihatku ia mengenaliku dan berseru, “Wahai Abu Abdullah, adakah yang bisa saya bantu?” Lalu aku duduk dan kukatakan, “Bukankah Anda yang bersamaku kemarin malam?” Mendengar itu berubahlah rona wajahnya dan berkata dengan suara yang keras, “Wahai Ibnu al-Munkadir, apa urusanmu!?” Dia marah dan aku pun ingin segera berlalu darinya. Di malam ketiga, setelah shalat Isya’, kembali aku bersandar pada tiang khususku untuk menunggunya. Tetapi ia tidak datang. Kukatakan pada diriku sendiri, “Inna lillah... Apa yang telah aku perbuat?” Katika datang waktu Shubuh, aku duduk di masjid sampai matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumahnya. Aku dapati pintu rumahnya terbuka dan tidak kudapatkan seorang pun di dalamnya. Tetangga-tetangganya bertanya kepadaku, “Wahai Abu Abdullah, apa yang terjadi antara tukang sepatu itu dan Anda?” Aku ganti bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Setelah kepergianmu kemarin, orang itu menghamparkan kainnya dan tidak meninggalkan satu barang pun kecuali ia bungkus dengannya. Lalu ia keluar dan kami tidak tahu ke mana ia pergi. Ibnu al-Munkadir berkata, ”Tidak aku tinggalkan sebuah rumah pun di Madinah kecuali aku cari di sana dan aku tidak menemukannya. Semoga Allah merahmatinya.” More About me

renungan
    jadilah anda orang yang berguna dalam iqomatud dien
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 374.288 kali


connect with ABATASA