0


Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
AR-SA
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Kala Ramadhan Tlah Digenapkan, Ada Satu Harapan,
Smoga Tahun Depan Kita Masih Diramadhankan.
Kala Takbir Tlah Dikumandangkan, Ada Satu Pertanyaan?.....
Masukkah Kita Dalam Daftar Peraih Kemenangan ?
Kala Hari Baru Berganti, Bisakah Kita Terlahir Fitri Kembali ?
Maka Perlu Satu Pengakuan,Betapa Banyak Salah Dan Alpa Yang Kita Lakukan,
Tinggal Satu Permohonan Semoga Masih Termaafkan.
MET IDUL FITRI 1431 H.

Dikirim pada 09 September 2010 di Tips

Berikut kami sampaikan SMS teman yang inginkan Nasehat dikalangan muslim tetap terjalin walau jaraknya jauh

Kelelahan Adalah Nikmat

Rasa Berat Adalah Anugrah

Rasa Sakit Adalah Kebahagiaan

Sedangkan Kerisauan Dan Kegaluhan Adalah Tanda Kepedulian

Wahai Para Pejuang Kebenaran.......?

Jangan Pernah Surutkan Langkahmu

Sungguh Allah Akan Mengganti Dengan Pahala Tiada Batas

Jangan Pernah Redupkan Semangat perjuangan-mu

Apapun Yang Terjadi Jangan Cemas Dengan Hasil Perjuangan-mu

Karena Itu Hak Allah Azza Wa Jalla

Cemaskanlah Kadar Keikhlasan-mu

Karena Orang Yang Tidak Ikhlas Dalam Berjuang Bagai Pelamun

Semangatnya Palsu Tidak Ada Manfaatnya...



Para Sahabat Yang budiman sungguh nasehat ini begitu mengharuka serat yang dalam bila direnungkan, bahkan takkan berarti bila tidak diresapi demikianlah nasehat yang hinggap ketubuh kita terkatang pergi begi saja tanpa memberikan pengaruh yang signifikan namun dilain harun akan sangat berarti disaat kita saling membutuhkan.

nasehatilah saudara anda serta teman dan keluarga sebelum kita ditanya sama yang Maha Kuasa sudahkah kita meberikan nasehat walaupun sekedar asa yang redup tak dirasa.

jazakallah sudah menyimak dengan seksama....

Dikirim pada 07 September 2010 di Tips
Awal « 1 » Akhir
Profile

Dari Muhammad bin al-Munkadir berkata ; Aku memilih sebuah tiang khusus di masjid Rasulullah shallallah ‘alihi wa-sallam yang biasanya aku duduk dan shalat malam di dekatnya. Ketika penduduk Madinah dilanda kemarau panjang, mereka ramai-ramai melakukan Istisqo’, tetapi hujan tak kunjung datang. Disuatu malam seusai menunaikan shalat Isya’ aku bersandar pada tiang pilihanku, tiba-tiba datang seorang berkulit hitam menuju ke tempat aku bersandar. Ia di sisi depan dan aku di sebaliknya. Dia shalat dua raka’at lalu duduk dan berdo’a, “Duhai Rabbku, penduduk kota Nabi-Mu telah keluar untuk meminta hujan tetapi Engkau belum mengabulkannya. Maka, aku bersumpah pada-Mu agar Engkau menurunkannya.” Aku bergumam, “Orang gila.” Tetapi belum sempat dia meletakkan tangannya kudengar suara bergemuruh dan turunlah hujan yang membuatku ingin pulang. Tatkala mendengar suara hujan orang itu memuji Allah ‘Azza wa-Jalla dengan pujian yang belum pernah kudengar sama sekali. Lalu dia berdiri shalat. Menjelang Shubuh, barulah ia sujud , lalu berwitir dan shalat fajar. Kemudian terdengar iqomah, maka ia pun berdiri dan melaksanakan shalat bersama orang banyak. Demikian juga aku. Setelah imam salam ia keluar dan aku ikuti. Sesampai di pintu masjid ia keluar sambil mengangkat kainnya agar tidak basah. Aku mengikutinya, tetapi karena aku sibuk dengan bajuku agar tidak basah aku tidak tahu kemana ia pergi. Di malam berikutnya kutunggu dia di tiang yang sama. Dan ia pun datang, berdiri shalat sampai menjelang Shubuh. Lalu sujud, melaksanakan shalat Witir, shalat fajar dan shalat Shubuh. Setelah imam salam, ia keluar dan aku mengikutinya sampai ia memasuki sebuah rumah. Lalu aku kembali ke Masjid. Ketika matahari sudah tinggi, aku melaksanakah shalat (Dluha) lalu pergi menemui orang itu. Ternyata orang itu adalah tukang sepatu. Tatkala melihatku ia mengenaliku dan berseru, “Wahai Abu Abdullah, adakah yang bisa saya bantu?” Lalu aku duduk dan kukatakan, “Bukankah Anda yang bersamaku kemarin malam?” Mendengar itu berubahlah rona wajahnya dan berkata dengan suara yang keras, “Wahai Ibnu al-Munkadir, apa urusanmu!?” Dia marah dan aku pun ingin segera berlalu darinya. Di malam ketiga, setelah shalat Isya’, kembali aku bersandar pada tiang khususku untuk menunggunya. Tetapi ia tidak datang. Kukatakan pada diriku sendiri, “Inna lillah... Apa yang telah aku perbuat?” Katika datang waktu Shubuh, aku duduk di masjid sampai matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumahnya. Aku dapati pintu rumahnya terbuka dan tidak kudapatkan seorang pun di dalamnya. Tetangga-tetangganya bertanya kepadaku, “Wahai Abu Abdullah, apa yang terjadi antara tukang sepatu itu dan Anda?” Aku ganti bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Setelah kepergianmu kemarin, orang itu menghamparkan kainnya dan tidak meninggalkan satu barang pun kecuali ia bungkus dengannya. Lalu ia keluar dan kami tidak tahu ke mana ia pergi. Ibnu al-Munkadir berkata, ”Tidak aku tinggalkan sebuah rumah pun di Madinah kecuali aku cari di sana dan aku tidak menemukannya. Semoga Allah merahmatinya.” More About me

renungan
    jadilah anda orang yang berguna dalam iqomatud dien
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 233.028 kali


connect with ABATASA